Sidikalang_Mediatargetbuser id.
Tidak menerima bantuan sumbangan ( dana pertangis simate-mate ) dalam upacara adat kematian cawir metua pada adat suku KARO, disebut sangat langka.
Sebutan langka itu terjadi di acara adat kematian cawir metua Bayang Andri (Nenek Andri Sebayang) tutup usia 84 tahun yang disemayamkan dan berlangsung di Jambur (Losd) Palding Jaya Sumbul Kecamatan Tigalingga Kabupaten Dairi Senin(30/5/22)
Pada acara adat kematian itu secara keseluruhan para pelayat dari sanak saudara , family ,warga sekitar baik dari warga luar daerah , tidak diperbolehkan memberikan sumbangan uang (dana pertangis simate-mate) dan keluarga pihak yang berduka tetap menginformasikan tidak menerima sumbangan karena pesan dan amanah orang tua almarhumah .
Spontan seluruh para pelayat yang datang dari berbagai daerah mengaku acara itu langka dan sangat luar biasa sebab sebagaimana umumnya pada pelaksanaan acara adat kematian cawir metua pada umumnya di Dairi dilakukan pengumpulan dana sumbangan atau dalam bahasa Karo dana pertangis dalam bahasa Toba, Simlungun, Pakpak “Tuppak” yang bersumber dari elemen warga masyarakat
Sementara pengakuan dari seluruh warga pelayat profil kehidupan dari keluarga yang berduka bukanlah salah satu keluarga konglomerat atau orang kaya raya, keluarga sederhananya kalau dana untuk acara adat kematian seperti ini tidak cukup 200 juta. Jadi hal ini langka dan luar biasa sebab menurut para pelayat sementraa di daerah Dairi khususnya orang suku KARO jauh masih banyak yang lebih kaya dari keluarga yang berduka, dan dalam acara adat kematian cawir metua lumayan banyak didapati dari keluarga kaya tetapi tidak menolak sumbangan dari warga pelayat.Kita sangat terharu semoga keturunannya makin diberkati Tuhan .” sebut sejumlah pelayat
Salah satu putra anak ke 4 Nenek Andri Sebayang , Robby Loren Ginting nama panggilannya Ucok membenarkan hal itu merupakan pesan utama dan amanah dari Nenek Andri Sebayang(almarhumah) yang merupakan sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas berkat kepada keluarga terutama di semasa hidup ibunya yang harus benar dilaksanakan para putra putri (anak,cucu dan cicit ) ketika sudah tiada (cawir metua) dalam acara adat cawir metua.
Ucok juga menyebutkan dalam acara upacara adat kematian ibuny tercinta itu sengaja dihadirkan perkolong-kolong musik tradisi adat KARO pada upacara puncak selama tiga hari tiga malam untuk menghibur para pelayat juga artis KARO juga dihadirkan yang semuanya asal dari Medan Sumut .
Diketahui , riwayat Nenek Andri Sebayang(84) merupakan seorang janda tua juga pensiunan Guru PNS yang sudah lama ditinggal pergi mati suaminya pada tahun 1983 dan pensiun 1998 berjuang sendiri untuk anak-anaknya.
Nenek Andri Sebayang (84) meninggalkan 6 anak ,terdiri dari perempuan 2 orang ,4 orang laki-laki .Cucu 14 orang dan cicit 7 orang dan sejumlah anak Bayang Andri diketahui sukses diperatauan sebagai pengusaha swasta.
Sebelum menjelang akhir hidupnya ( meninggal red) Nenek Andri Sebayang atau panggilan Bayang bahwa dua minggu lalu diketahui membiayai sendiri kurang lebih 36 orang lansia asal Sumbul Karo Tigalingga berwisata ke wisata si Bea-Bea Kabupaten Samosir.
( Nur kennan Tarigan )
Editor. Zamri.
![]()
