Tanah Karo, Mediatargetbuser id.
Ribuan Hektar perladangan/persawahan warga empat desa di Kecamatan Mardinding diantaranya, Desa Lau solu, Desa Baturongkang, Desa Lau mulgap tergenang banjir yang sudah terjadi selama bertahun – tahun, namun tidak juga mendapatkan perhatian Pemkab. Karo padahal hampir enam bulan sekali kami usulkan, demikian awal perbincangan kami dengan salah satu warga Desa Laumulgap, Perwira Sembiring, pada Jumat 15/04/2022 lalu.

Ketika ditanya apakah betul untuk membantu dana normalisasi irigasi ada pengutipan terhadap warga yang menurut informasi bahwa warga dari empat desa diminta sumbangan sebesar Rp 100.000/KK guna membeli solar agar beko bisa dioperasikan. Perwira membantah hal tersebut, ia mengatakan memang dia ditunjuk warga atas hasil musyawarah untuk menjadi panitia pengumpulan dana, tapi terhadap warga tidak dipatok berapa besarannya, hanya seiklasnya, dan yang tidak mau menyumbang ya tidak dipaksa, ujarnya.
Dan awak media ini juga mencoba mengkonfirmasi koordinator lapangan bagian normalisasi irigasi / pengawas, David Tarigan, hampir senada dengan Perwira bahwa betul ada swadaya masyarakat dalam hal pengumpulan dana, kegunaannya selain membeli minyak beko, juga untuk membeli makan dan rokok operator, katanya.
Ketika ditanya apakah ada anggaran dari PUPR,..? Dia mengatakan tidak tahu, yang kami tahu ada beko dan operatornya tapi belum bisa dijalankan karena solar langka, makanya dari hasil musyawarah warga, kami iuran untuk membantu membeli solar. Ini semua dengan tujuan agar normalisasi irigasi ini cepat selesai dan kami bisa berladang seperti sebelumnya, ujar David.
David menambahkan, perlu diketahui kami dari empat desa ini sudah terancam kelaparan, yang mana sudah delapan kali kami gagal panen, jadi kerugian kami paling sedikit itu Rp 80 juta/KK, bagaimana tidak baru ditanam terus diterjang banjir, tanam lagi banjir lagi, jadi kami juga minta tolong agar pihak Pemkab. Karo serius dalam membenahi dan menormalisasi irigasi kami ini, karena hampir enam bulan sekali kami usulkan, tapi tidak juga mendapatkan respon, baru kali ini direspon menurunkan beko, eh minyaknya gak ada, kata David dengan nada sedih.
Sementara itu Sekdes Desa Lausolu yang merangkap Staf Non ASN dari PUD Karo, Sampit Tarigan yang bertugas mengawasi saluran air di Desa Lausolu ketika dikonfirmasi juga mengatakan, Ia tidak tahu apakah dana yang digunakan dana darurat atau dana bencana yang jelas normalisasi irigasi tersebut adalah tanggung jawab PUD Karo.
Dan ketika ditanya mengapa warga dikutip 100 ribu/ KK, Ia mengatakan untuk di Desa Lausolu tidak ada dilakukan pengutipan terhadap warga hanya saja atas inisiatif Perangkat Desa, maka gaji mereka disumbangkan untuk tambah – tambah beli minyak beko/solar, tambahnya lagi.
Dari pantauan awak media ini irigasi yang harus dinormalisasi itu sepanjang 3 Km, namun perawatan/pengerukan baru berjalan sekitar 300 M dan pekerjaan terhenti dengan alasan tidak ada minyak solar, pertanyaannya, apakah tidak ada stok dari PUD Karo untuk minyak beko bila menghadapi bencana darurat seperti ini,…???
Untuk itulah maka awak media ini mencoba menanyakan kepada Kadis PUPR Kab. Karo, Edward Sinulingga melaui pesan WhatsAppnya, namun ditunggu hingga berita ini dinaikan ( 2 hari ) kami tidak juga mendapatkan jawaban.
( Nur kennan Tarigan )
Editor. Zamri.
![]()
